Suasana pagi hari, terasa menyejukkan. Dalam udara yang segar, padi-padian yang hijaunya murni, bukan seperti warna hijau bendera parpol yang hanya dari produk rumahan bernama naptol. Iringa lagu memulaiku bersepeda dalam pagi yang gelap ini. melewati tepian sawah, jalan raya antar provinsi yang tampak rapuh dan romantis di waktu fajar. Temaram lampu penerang jalan seperti backsound yang pas ketika seorang sastrawan membacakan puisi romannya. Terlampau sedikit makhluk-makhluk yang saya lihat pagi ini. Mungkin mereka sudah ada dipasar, atau masih bertasbih di langgar, atau terlelap dalam mimpi panjang. entah apa yang saya cari sepagi ini. Saya hanya ingin merasakan Snerayuza, udara yang bersahabat, walau sudah tak jernih, tercampur limbah kotoran dari mana-mana, bus, motor, pestisida, kotoran ternak yang beterbangan, biasa saja. Ahsemua ini hanya roman, dan lagi lagi seya terjebak oleh kemolekan romantisme jaman "flower generation" yang dengan slogan peace, save earth, stop war, yang sangat artifisial. Romantisme yang mendayu-dayu, mendayungnya terus ke ngarai yang paling dalam, mematikan korbannya karena termabukkan dengannya. Mati lagi, hidup kemudian, mati lagi, hidup kemudian. Secercah cahaya dari surga menunggu.
Pagi yang indah